Perjanjian Baru tidak banyak berbicara secara khusus tentang Maria. Pembahasan mengenai Maria selalu berkaitan dengan Yesus Kristus dan karya keselamatan-Nya. Dengan demikian, Maria tidak pernah menjadi pusat pewartaan, melainkan selalu dipahami dalam hubungan dengan Kristus sebagai inti iman Kristen.
Dalam Injil Markus, Maria muncul dalam kisah keluarga Yesus (Mrk 3:31–35). Dalam peristiwa ini Yesus menegaskan bahwa keluarga-Nya yang sejati adalah mereka yang melakukan kehendak Allah. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga dalam Kerajaan Allah tidak hanya didasarkan pada hubungan biologis, tetapi pada kesediaan untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan. Maria sendiri dipandang sebagai bagian dari keluarga rohani ini karena kesetiaannya kepada Allah.
Injil Markus juga menyebut Yesus sebagai “anak Maria” ketika Ia ditolak di tempat asal-Nya (Mrk 6:1–6a). Penyebutan ini unik karena hanya terdapat dalam Injil Markus dan tidak menyebut nama Yusuf. Hal ini menekankan kemanusiaan Yesus sekaligus menunjukkan konteks jemaat yang perlu memahami Yesus bukan hanya dari sisi keajaiban-Nya, tetapi juga dari kehidupan manusiawi-Nya.
Selain itu, Markus juga menyebut adanya “saudara-saudara Yesus”. Namun istilah “saudara” dalam bahasa Yunani (adelphos) dapat memiliki arti luas, tidak selalu berarti saudara kandung, tetapi juga kerabat atau sesama anggota komunitas. Karena itu, penyebutan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa Maria memiliki anak-anak lain.
Dalam Injil Matius, peran Maria tampak jelas dalam kisah masa kanak-kanak Yesus. Dalam silsilah Yesus (Mat 1:1–17), nama Maria disebut secara khusus, sesuatu yang tidak biasa dalam tradisi Yahudi. Hal ini menunjukkan bahwa Maria memiliki peran penting dalam rencana keselamatan Allah, karena melalui dialah Yesus, Sang Mesias, hadir dalam sejarah manusia.
Kisah perkandungan Maria (Mat 1:18–25) menegaskan bahwa Yesus dikandung dari Roh Kudus sebelum Maria hidup bersama dengan Yusuf. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kelahiran Yesus merupakan karya Allah yang istimewa dalam rangka mewujudkan rencana keselamatan bagi umat manusia. Dengan demikian, Maria dipandang sebagai pribadi yang dipilih Allah secara khusus untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan-Nya.






