1. Pengertian
(Etimologis dan Menurut Para Teolog)
Secara
etimologis, kata diakonia berasal dari bahasa Yunani diakonein, yang
berarti melayani, mengabdikan diri, atau memberi pelayanan kasih. Dalam Kitab
Suci, Yesus berkata, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan
untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak
orang” (Mrk 10:45). Dengan demikian, diakonia mencerminkan jati diri Gereja
sebagai komunitas yang hadir untuk melayani dengan kasih, sebagaimana Kristus
sendiri telah melayani.
Secara
teologis, Jegalus (2020: 140) menjelaskan bahwa diakonia adalah “perbuatan
pelayanan kasih, di mana anggota-anggota Gereja memberi kesaksian tentang
keselamatan Allah sebagaimana nyata dalam hidup sehari-hari di tengah
masyarakat.” Melalui diakonia, iman tidak lagi hanya bersifat batiniah dan
pribadi, tetapi menjadi nyata dalam tindakan sosial yang penuh kasih.
Sementara
itu, Ardijanto (2009: 10) menyebut pelayanan pastoral — yang mencakup diakonia
— sebagai “suatu bentuk pelayanan keselamatan bagi manusia di dalam Gereja;
Gereja mewartakan, mengaktualisasikan, dan mengkomunikasikan anugerah
keselamatan Allah bagi manusia dalam hidup manusia.” Dengan demikian,
diakonia adalah wujud nyata iman kepada Kristus, di mana kasih Allah dialami
dan dibagikan kepada sesama.
2. Sumber
(Dasar Biblis dan Dokumen Konsili Vatikan II)
a. Dasar
Biblis
Pelayanan diakonia berakar kuat dalam Kitab Suci.
Dalam Kisah Para Rasul 6:1–6, para rasul menetapkan tujuh diakon untuk membantu
kaum janda miskin — bentuk awal pelayanan kasih dalam Gereja. Dalam Yohanes
13:14–15, Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya dan berkata, “Aku telah
memberikan teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang
telah Kuperbuat kepadamu.” Pelayanan kasih inilah inti diakonia: melayani
dengan rendah hati tanpa pamrih.
b. Dasar
Teologis dan Magisterial
Dokumen Lumen Gentium menegaskan
bahwa Gereja adalah “tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan
kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1). Gereja melanjutkan karya pelayanan
Kristus di dunia. Lumen Gentium pasal 31 menyebut bahwa kaum awam “berdasarkan
panggilan khasnya, bertugas mencari Kerajaan Allah dengan mengusahakan hal-hal
duniawi dan mengaturnya sesuai dengan kehendak Allah.” Artinya, pelayanan
kasih bukan monopoli para imam, tetapi menjadi tanggung jawab semua umat
beriman.
Sejalan dengan hal itu, Jegalus (2020: 143) menulis: “Gereja
tidak berada untuk dirinya sendiri, tetapi untuk pelayanan terhadap dunia dan
masyarakat.” Maka, diakonia merupakan bagian integral dari misi Gereja
untuk menjadi sakramen kasih Allah bagi dunia.
3. Bentuk
Pelayanan Gereja Kini
Menurut
ajaran Konsili Vatikan II, Gereja melaksanakan perutusannya dalam tiga tugas
pokok: kerygma (pewartaan), leitourgia (liturgi), dan diakonia (pelayanan
kasih). Ketiganya membentuk satu kesatuan dalam misi Gereja untuk mewujudkan
kasih Allah bagi manusia. Dalam konteks masa kini, diakonia tidak hanya
terbatas pada pelayanan rohani, tetapi juga menyentuh bidang sosial, ekonomi,
pendidikan, dan kemanusiaan.
a. Pelayanan
sosial dan kemanusiaan.
Diakonia diwujudkan dalam tindakan nyata bagi mereka yang menderita dan membutuhkan
uluran tangan kasih. Jegalus (2020: 145) menegaskan, “Wujud pelayanan
diakonia bisa berupa mengunjungi orang sakit, membantu anak yatim piatu,
memberi sumbangan bagi korban bencana alam, memperjuangkan undang-undang yang
adil, membela orang yang tertindas, serta membongkar struktur-struktur sosial
politik yang korup.”
Aksi
nyata Gereja di Indonesia mencakup:
- Caritas
Indonesia (Karina KWI) yang aktif memberikan bantuan kemanusiaan saat terjadi
bencana alam seperti gempa Palu, banjir di NTT, dan pandemi COVID-19.
- Paroki-paroki
lokal yang mengadakan program “Gerakan Kasih untuk Sesama”, membagikan sembako
kepada keluarga kurang mampu dan kunjungan ke panti jompo atau rumah sakit.
- Komisi
PSE (Pengembangan Sosial Ekonomi) yang membantu pemberdayaan ekonomi umat melalui
pelatihan usaha kecil dan koperasi paroki.
b. Pelayanan
pastoral dan rohani.
Menurut Ardijanto (2009: 10), “Pelayanan pastoral
Gereja merupakan hak dan tanggung jawab seluruh Gereja … diwujudkan dalam
berbagai bentuk aktivitas agar Gereja mewartakan serta mengkomunikasikan
anugerah keselamatan Allah bagi manusia.”
Aksi nyata bentuk pelayanan ini antara
lain:
- Kunjungan
pastoral ke rumah umat, terutama yang sakit, lanjut usia, atau mengalami
kesulitan hidup.
- Pendampingan
keluarga dan kaum muda, misalnya kegiatan Bina Iman Anak (PIA), Bina Iman
Remaja (PIR), dan Bina Keluarga Katolik (BKK).
- Retret
dan rekoleksi untuk memperdalam iman, serta katekese digital yang memanfaatkan
media sosial untuk menumbuhkan iman generasi muda.
- Pelayanan
sakramental, seperti Ekaristi, Sakramen Tobat, dan Pengurapan Orang Sakit, yang
menjadi sumber kekuatan rohani bagi umat.
c. Pelayanan
profesional dan keseharian.
Kaum awam memiliki peran penting dalam
mewujudkan diakonia di dunia kerja dan kehidupan sosial. Jegalus (2020: 145) menyebut
bahwa kaum awam menjalankan perutusan diakonia “dalam tugas-tugas duniawi
mereka — sebagai guru, dosen, perawat, kontraktor, petani, sopir, buruh,
wartawan, pegawai negeri, polisi, hakim, dan sebagainya — yang dikerjakan
dengan semangat Kristiani.”
Contoh konkret aksi diakonia awam di masa kini antara
lain:
- Guru
Katolik yang menanamkan nilai-nilai kejujuran, kasih, dan tanggung jawab kepada
siswa.
- Tenaga
medis Katolik yang melayani pasien dengan empati tanpa membeda-bedakan agama.
- Pekerja
sosial dan relawan OMK yang aktif menggalang dana untuk korban bencana dan
melakukan kerja bakti lingkungan.
- Pegawai
dan pejabat publik Katolik yang menghidupi semangat anti-korupsi dan membela
kebenaran demi kesejahteraan masyarakat.
4.
Tantangan
dalam Pelayanan Pelayanan
kasih di masa kini tidak lepas dari berbagai tantangan, baik internal maupun
eksternal. \
- Motivasi
pelayanan yang keliru.
Menurut
Ardijanto (2009: 9), banyak petugas pastoral
“melayani bukan berdasarkan
motivasi yang benar, tetapi karena alasan pribadi atau sosial.” Oleh sebab itu,
setiap pelayan Gereja perlu “memurnikan motivasi dasar pelayanannya agar
sungguh menumbuhkan Tubuh Mistik Kristus.”- Kurangnya
spiritualitas pelayanan.
Diakonia
yang tidak berakar pada iman mudah berubah menjadi kegiatan sosial tanpa jiwa
rohani. Maka, diperlukan pembinaan iman yang mendalam.
- Individualisme
dan materialisme.
Jegalus
(2020: 140) menyoroti bahaya iman yang hanya bersifat pribadi tanpa diungkapkan
dalam tindakan sosial, sehingga pelayanan kehilangan daya kesaksian.
- Kurangnya
kerjasama antara awam dan hirarki.
Konsili
Vatikan II mengajak agar hubungan antara awam dan para imam menjadi
kolaboratif. Jegalus (2020: 142) menegaskan,
“Hubungan antara awam dan
hirarki tidak lagi digambarkan sebagai hubungan ketaatan saja, tetapi lebih
menurut corak kerjasama.”- Kendala
sosial dan politik.
Ketidakadilan,
kemiskinan, dan korupsi menjadi tantangan nyata bagi pelayanan kasih. Gereja
harus hadir membela mereka yang lemah dan memperjuangkan keadilan sosial,
sebagaimana dituntut oleh Ajaran Sosial Gereja.
6. Sumbangan
/ Komitmen Pribadi
Sebagai
calon pelayan Gereja, kami memahami bahwa diakonia bukan sekadar tugas
tambahan, tetapi panggilan hidup. Pelayanan kasih merupakan jalan untuk
meneladani Kristus yang datang untuk melayani.
- Melayani
dengan kasih Kristus.
Kami
ingin meneladani Yesus yang rendah hati dalam pelayanan. Ardijanto (2009: 10)
menegaskan bahwa setiap pelayanan harus
“dimotivasi oleh cinta kasih dan
kesadaran akan panggilan baptis, bukan oleh kepentingan diri.”- Menghidupi
diakonia sosial.
Kami
berkomitmen untuk terlibat aktif dalam kegiatan sosial dan pastoral di paroki:
kunjungan orang sakit, pelayanan kaum muda, dan aksi peduli terhadap sesama
yang terluka secara batin maupun sosial.
- Menjadi
saksi Kristus di dunia kerja.
Seperti
dikatakan Jegalus (2020: 143), kaum awam menghadirkan Roh Kristus di tengah
masyarakat melalui profesinya masing-masing. Kami ingin membawa nilai kasih dan
kejujuran dalam setiap bidang yang saya geluti.
- Membangun
semangat kerja sama dalam Gereja.
Kami
ingin ikut menghidupi semangat sinodalitas — berjalan bersama dalam pelayanan —
agar Gereja sungguh menjadi rumah yang melayani, bukan menguasai.
7. Kesimpulan
Diakonia
adalah jantung kehidupan Gereja. Melalui pelayanan kasih, Gereja menunjukkan
wajah Allah yang penuh cinta kepada dunia. Konsili Vatikan II mengingatkan
bahwa Gereja adalah sakramen keselamatan: tanda kasih Allah yang menyatukan
manusia dengan Allah dan sesamanya.
Pelayanan
kasih bukan hanya tugas klerus, tetapi seluruh umat beriman. Dalam diakonia,
setiap orang dipanggil untuk menghadirkan kasih Kristus melalui tindakan
sederhana namun tulus. Dengan demikian, Gereja menjadi benar-benar “terang bagi
bangsa-bangsa” (Lumen Gentium, 1), yang membawa harapan dan keselamatan bagi
dunia.