Thursday, October 9, 2025

Panggilan Kaum Perempuan dalam Karya Keselamatan Allah

1. Martabat dan Peran Perempuan dalam Gereja

    Menurut Dr. Mary Erika Bolanos, martabat perempuan bersumber pada kenyataan bahwa mereka diciptakan “menurut gambar dan rupa Allah” (Imago Dei, Kejadian 1:27). Yesus Kristus sendiri menegaskan kesetaraan martabat ini melalui perjumpaan-Nya dengan perempuan: perempuan Samaria sebagai pewarta pertama, Maria dari Betania sebagai murid yang mendengarkan Sabda, dan Maria Magdalena sebagai saksi pertama kebangkitan. Dalam konteks ini, perempuan menjadi saksi iman yang kredibel dan bagian penting dalam sejarah keselamatan.

    Paus Yohanes Paulus II dalam Mulieris Dignitatem menyatakan bahwa Allah mempercayakan manusia kepada perempuan secara istimewa, sehingga setiap perempuan dipanggil untuk memelihara kehidupan — secara jasmani maupun rohani. Paus Fransiskus menegaskan dalam Evangelii Gaudium bahwa Gereja perlu mengakui “kontribusi tak tergantikan perempuan” dalam kepekaan, intuisi, dan kemampuan membangun kehidupan bersama.

2. Perempuan Indonesia dan Karya Gereja 

    Menurut Dr. Hartutik, perempuan Indonesia aktif berperan dalam semua bidang kehidupan Gereja: Liturgia, Kerygma, Koinonia, Diakonia, dan Martyria. Mereka menjadi tulang punggung pelayanan, baik sebagai pengajar iman, pendoa, maupun pelayan kasih. Motivasi utama mereka adalah pelayanan karena cinta kepada Allah dan sesama, sekalipun masih ada tantangan budaya patriarkal yang membatasi ruang gerak mereka. 

    Data penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perempuan Gereja memiliki semangat yang tinggi dalam pelayanan, meski sebagian laki-laki masih khawatir perempuan “melampaui peran domestiknya”. Namun, keterlibatan mereka justru menampakkan wajah Gereja yang lebih inklusif dan penuh kasih, sejalan dengan semangat Mulieris Dignitatem yang menekankan keunikan serta peran maternal perempuan dalam Gereja.

3. Perempuan dalam Katekese dan Formasi Iman 

    Menurut Dr. Steven, sebagian besar katekis di Gereja adalah perempuan. Paus Fransiskus melalui Ministerium Antiquum (2021) bahkan secara resmi menginstitusikan lay ministry of catechist dan membuka pelayanan ini bagi perempuan. Dokumen Directory for Catechesis (2020) menegaskan bahwa perempuan memiliki peranan yang besar dalam membentuk iman anak-anak dan keluarga karena mereka mewujudkan “feminine genius”: kepekaan, kemurahan hati, dan kemampuan memelihara kehidupan. 

    Dalam keluarga, perempuan — khususnya para ibu — menjadi “katekis pertama” yang menanamkan benih iman. Melalui kasih dan kehadirannya, seorang ibu membentuk dasar kepercayaan anak kepada Allah sejak dalam kandungan hingga masa kanak-kanak. Maka, tugas katekese perempuan bukan sekadar mengajar, melainkan menjadi tanda nyata kasih Allah yang menumbuhkan iman dan harapan dalam diri orang lain.

4. Pertanyaan dalam Seminar 

    Dalam sesi seminar, saya sempat bertanya: 

“Gereja Katolik dengan tegas menolak aborsi. Namun dalam kenyataan, ada perempuan yang hamil karena pemerkosaan, sementara ia tidak menginginkan anak itu dan belum siap secara mental untuk menjadi ibu. Dalam situasi seperti ini, bagaimana Gereja menanggapi, mengingat di satu sisi Gereja menolak aborsi, namun di sisi lain harus berhadapan dengan realitas perempuan yang rentan secara psikologis?” 

    Jawaban dari pembicara menegaskan bahwa Gereja Katolik tetap melarang aborsi dalam keadaan apa pun, karena kehidupan manusia harus dihormati sejak saat pembuahan. Namun, Gereja juga berkewajiban mendampingi perempuan tersebut secara penuh kasih, terutama dalam aspek psikologis dan spiritual, agar ia tidak merasa sendirian atau dikutuk. Gereja hadir untuk menyembuhkan luka batin dan melindungi martabat ibu sebagai pribadi yang tetap dicintai Allah.

5. Tanggapan dari Perspektif Teologi Keselamatan 

    Dari perspektif Teologi Keselamatan, panggilan perempuan bukan hanya untuk “melayani”, tetapi untuk menghadirkan wajah Allah yang menyelamatkan melalui kasih, empati, dan ketekunan mereka. Keselamatan tidak hanya terjadi melalui pewartaan para imam atau katekis laki-laki, tetapi juga melalui kehadiran perempuan yang setia mendampingi sesama di tengah penderitaan dan pergulatan hidup. 

    Perempuan menjadi tanda nyata kasih Allah yang inkarnatif — Allah yang turun dan hadir dalam kelemahlembutan manusia. Dalam konteks penderitaan, seperti perempuan korban kekerasan atau pemerkosaan, keselamatan hadir ketika Gereja memperlakukan mereka bukan sebagai dosa yang harus dihukum, tetapi sebagai pribadi yang harus disembuhkan. Inilah makna mendalam karya keselamatan Allah: menghadirkan belas kasih yang memulihkan, bukan sekadar hukum yang menghakimi.

No comments:

Post a Comment

Maria dalam Perspektif Injil

  (Sumber Gambar: https://share.google/VoCDGuLJYaDcoAZni)      Perjanjian Baru tidak banyak berbicara secara khusus tentang Maria. Pembahasa...