Istilah sinodalitas berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata syn yang berarti “bersama” dan hodos yang berarti “jalan”. Secara sederhana, sinodalitas bisa dimengerti sebagai semangat Gereja yang berjalan bersama dalam satu arah, yaitu menuju Kristus. Gereja dipanggil bukan hanya untuk menjadi lembaga yang mengatur kehidupan rohani umat, tetapi juga untuk menjadi komunitas yang saling mendengarkan, bekerja sama, dan meneguhkan satu sama lain dalam terang Roh Kudus.
Dalam konteks ini, sinodalitas menggambarkan wajah Gereja yang hidup dalam kebersamaan. Semua umat Allah—baik imam, biarawan-biarawati, maupun awam—memiliki peran yang sama penting dalam perjalanan iman. Gereja bukan milik satu golongan saja, melainkan milik seluruh umat yang berjalan bersama sebagai satu tubuh. Semangat ini mengingatkan kita pada sabda Yesus dalam Yohanes 14:6, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Maka, berjalan bersama berarti mengikuti jalan yang telah ditunjukkan oleh Kristus sendiri.
Namun, Gereja yang sinodal tidak bisa dilepaskan dari sifat apostoliknya. Gereja yang apostolik berarti Gereja yang berakar pada ajaran dan kesaksian para rasul, yaitu mereka yang pertama kali menerima dan mewartakan Kabar Gembira. Kesetiaan pada ajaran para rasul menjadi pondasi yang menjaga Gereja tetap berada di jalan yang benar. Tanpa kesetiaan ini, semangat berjalan bersama bisa kehilangan arah.
Dengan demikian, sinodalitas dan apostolisitas bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan saling melengkapi. Sinodalitas mengajak seluruh umat untuk aktif berpartisipasi dalam kehidupan Gereja, sedangkan apostolisitas memastikan bahwa partisipasi itu selalu berakar pada iman yang sejati. Gereja berjalan bersama (sinodal), tetapi tidak meninggalkan kesetiaan pada tradisi iman para rasul (apostolik).
Dalam praktiknya, semangat sinodal ini tampak dalam berbagai tingkatan kehidupan menggereja. Di tingkat lokal, misalnya di paroki, umat dilibatkan dalam dewan pastoral paroki (DPP) untuk menyalurkan aspirasi dan mengambil bagian dalam pelayanan. Di tingkat nasional, semangat ini tampak melalui Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang menegaskan arah pastoral Gereja di Indonesia. Sedangkan di tingkat universal, Gereja menunjukkan sinodalitasnya lewat dokumen-dokumen seperti Laudato Si’ dan Fratelli Tutti, yang mengajak seluruh umat beriman di dunia untuk berjalan bersama dalam kepedulian terhadap sesama dan ciptaan.
Pada akhirnya, Gereja yang sinodal dan apostolik adalah Gereja yang hidup dan bergerak bersama umatnya, tetap berakar pada iman para rasul, dan selalu membuka diri terhadap bimbingan Roh Kudus. Sinodalitas bukan sekadar konsep, melainkan cara hidup Gereja yang menghidupi kasih, kebersamaan, dan kesetiaan dalam perjalanan menuju keselamatan.


No comments:
Post a Comment