Monday, October 6, 2025

Kekatolikan dan Keapostolikan Gereja sebagai Dasar Kesatuan Iman

    

(Sumber Gambar: https://share.google/images/0lMi9MA8XVRPrFzh2)

    Gereja Katolik memiliki empat ciri utama yang diakui dalam Syahadat, yaitu satu, kudus, katolik, dan apostolik. Dua di antaranya, yakni katolik dan apostolik, menjadi dasar penting bagi kesatuan Gereja dan kehidupan iman umat beriman. Melalui dua ciri ini, kita dapat melihat bagaimana Gereja bukan sekadar lembaga keagamaan yang tersebar di berbagai tempat, melainkan persekutuan yang hidup dan dipersatukan oleh iman yang sama kepada Kristus.

    Kata katolik sendiri berasal dari bahasa Yunani katholikos yang berarti “umum” atau “menyeluruh”. Sejak awal sejarah Gereja, istilah ini digunakan untuk menunjukkan bahwa Gereja hadir bagi semua orang tanpa memandang suku, bangsa, atau budaya. St. Ignasius dari Antiokhia adalah tokoh pertama yang memakai istilah ini sekitar tahun 115, ketika ia menulis bahwa “di mana Yesus Kristus berada, di situ ada Gereja Katolik.” Ungkapan ini menegaskan bahwa kehadiran Gereja tidak terbatas pada tempat tertentu, sebab dalam setiap perayaan Ekaristi, di mana umat berkumpul dalam nama Kristus, di situlah Gereja universal hadir.

    Bagi para Bapa Gereja seperti St. Agustinus dan St. Sirilus dari Yerusalem, kekatolikan berarti Gereja harus mampu merangkul semua bangsa dan mendamaikan perbedaan yang ada. Gereja disebut Katolik karena mengajarkan seluruh kebenaran iman yang berasal dari Kristus dan ditujukan kepada semua orang yang mencari keselamatan. Kekatolikan tidak hanya berbicara tentang seberapa luas Gereja tersebar di dunia, tetapi juga tentang kelengkapan ajarannya dan keterbukaannya terhadap siapa pun. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Gereja yang Katolik adalah Gereja yang berupaya merangkul seluruh umat manusia di bawah satu Roh, yaitu Roh Kudus. Dalam setiap komunitas kecil umat beriman, sekecil apa pun, hadirlah seluruh Gereja Kristus, sebab di situlah Roh Kudus berkarya mempersatukan. Oleh karena itu, sifat Katolik bukan hanya milik Gereja universal, tetapi juga hadir dalam setiap anggotanya yang hidup dalam semangat kesatuan iman dan kasih.

    Kekatolikan juga berarti keterbukaan. Gereja dipanggil untuk berdialog dengan dunia, menerima segala hal baik dari setiap bangsa dan budaya, lalu memurnikannya dengan semangat Injil. Karena itu, Gereja mampu hadir di berbagai tempat dan konteks budaya tanpa kehilangan jati dirinya sebagai Gereja Kristus. Kesatuan dan kekatolikan ini tidak bisa dipisahkan, sebab kesatuan berbicara tentang hubungan lahiriah antarumat dan antarjemaat, sedangkan kekatolikan lebih menekankan pada hubungan batin yang dijiwai oleh Roh Kudus. Maka, kesatuan dan kekatolikan merupakan dua sisi yang saling melengkapi dalam kehidupan Gereja.

    Sementara itu, sifat apostolik atau rasuli menunjukkan bahwa Gereja berakar pada iman dan kesaksian para rasul. Sejak awal, Gereja bertekun dalam pengajaran para rasul sebagaimana diceritakan dalam Kisah Para Rasul 2:42. Gereja dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus sebagai batu penjuru. Keapostolikan berarti bahwa Gereja sekarang tetap setia pada ajaran dan kesaksian iman yang diwariskan oleh para rasul. Para rasul menjadi saksi utama kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus, dan kesaksian itu diteruskan melalui suksesi apostolik, yaitu keberlanjutan para uskup yang menjadi penerus para rasul, agar ajaran dan misi Gereja tetap terjaga kemurniannya hingga kini.

    Sifat rasuli juga mengandung makna perutusan. Gereja diutus untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa dan melanjutkan karya keselamatan Kristus. Misi ini bukan hanya tanggung jawab para pemimpin Gereja, melainkan juga seluruh umat beriman yang dipanggil untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia. Dengan demikian, keapostolikan tidak hanya menunjuk pada sejarah masa lalu, tetapi juga menjadi semangat yang hidup dalam setiap pewartaan, pelayanan, dan kesaksian umat di masa kini.

    Kekatolikan dan keapostolikan Gereja saling berkaitan erat. Kekatolikan menekankan kesatuan dalam keberagaman, sedangkan keapostolikan menegaskan kesetiaan pada iman yang diturunkan dari para rasul. Keduanya menjadi dasar yang menjaga Gereja tetap setia kepada Kristus dan terbuka terhadap dunia. Kesatuan Gereja bukan keseragaman, tetapi persatuan yang dihidupi oleh Roh Kudus. Dalam perbedaan budaya, bahasa, dan tradisi, Gereja tetap satu karena memiliki iman, sakramen, dan perutusan yang sama. Kesatuan ini terlihat nyata dalam perayaan Ekaristi, ketika seluruh umat di berbagai tempat bersatu dalam Tubuh dan Darah Kristus.

    Menjadi bagian dari Gereja yang Katolik dan Apostolik berarti ikut ambil bagian dalam misi Kristus untuk menyelamatkan dunia. Setiap umat Katolik dipanggil untuk menjadi saksi kasih Allah, menjembatani perbedaan, dan hidup dalam semangat kesatuan iman. Dengan cara itulah kekatolikan dan keapostolikan Gereja terus hidup dan nyata, bukan sekadar ajaran teologis, melainkan pengalaman iman yang sungguh dirasakan dalam kehidupan umat beriman di tengah dunia yang terus berubah.

(Sumber Gambar: https://share.google/images/EohPVQpFcruG3fJgI)

    Menjadi bagian dari Gereja yang Katolik dan Apostolik berarti ikut ambil bagian dalam misi Kristus untuk menyelamatkan dunia. Setiap umat Katolik dipanggil untuk menjadi saksi kasih Allah, menjembatani perbedaan, dan hidup dalam semangat kesatuan iman. Dengan cara itulah kekatolikan dan keapostolikan Gereja terus hidup dan nyata, bukan sekadar ajaran teologis, melainkan pengalaman iman yang sungguh dirasakan dalam kehidupan umat beriman di tengah dunia yang terus berubah.

No comments:

Post a Comment

Maria dalam Perspektif Injil

  (Sumber Gambar: https://share.google/VoCDGuLJYaDcoAZni)      Perjanjian Baru tidak banyak berbicara secara khusus tentang Maria. Pembahasa...