Thursday, September 18, 2025

Penciptaan: Awal dari Karya Penyelamatan Allah

    

    Setiap manusia tentu pernah bertanya dalam hati tentang asal mula dirinya dan dunia ini. Dalam iman Kristiani, jawaban atas pertanyaan tersebut kita temukan dalam kisah penciptaan yang tertulis dalam Kitab Suci. Penciptaan bukan sekadar cerita tentang awal mula dunia, tetapi juga merupakan tanda kasih Allah yang besar bagi manusia dan seluruh ciptaan. Seperti yang dikatakan dalam Kitab Yeremia 27:5, Allah sendiri yang menjadikan bumi, manusia, dan segala yang hidup. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh ciptaan berasal dari Allah dan sepenuhnya bergantung kepada-Nya.

    Penciptaan memiliki makna yang sangat dalam dan unik. Allah menciptakan dunia bukan hanya sebagai tempat tinggal manusia, tetapi juga sebagai awal dari sejarah keselamatan. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang bebas dan merdeka, namun tetap memiliki relasi yang erat dengan Sang Pencipta. Dalam Mzm 8:5-6, tertulis bahwa manusia dimahkotai dengan kemuliaan dan kehormatan, yang menandakan betapa berharganya manusia di mata Allah. Penciptaan, dengan demikian, bukan sekadar proses “membuat” dunia, tetapi juga ungkapan kasih Allah yang mengundang manusia untuk menjadi sahabat dan mitra dalam karya penyelamatan-Nya.

    Kitab Kejadian menceritakan dua kisah penciptaan. Kisah pertama menggambarkan Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, sedangkan kisah kedua lebih menekankan hubungan khusus antara Allah dan manusia, terutama melalui penciptaan Adam dan Hawa. Kedua kisah ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan proses ilmiah tentang bagaimana dunia terjadi, melainkan untuk menyatakan iman bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan diciptakan dalam kasih-Nya. Karena itu, tidak tepat jika kisah penciptaan hanya dipahami secara harfiah atau dicocokkan dengan teori-teori ilmiah seperti “big bang”. Ilmu pengetahuan berusaha memahami bagaimana alam semesta berkembang, tetapi iman mengajarkan siapa yang menjadi sumber dari semuanya.

    Bagi manusia, menyadari bahwa dirinya ciptaan Allah berarti memahami bahwa hidup ini sepenuhnya adalah anugerah. Segala yang kita miliki, termasuk kehidupan, hanyalah titipan yang harus kita syukuri dan pelihara. Hal ini juga membawa kita pada tanggung jawab untuk merawat bumi dan seluruh ciptaan lain. Dalam Kitab Kebijaksanaan 9:1-3, Raja Salomo berdoa kepada Allah agar ia dapat memerintah dunia dengan adil dan suci, sebagai bentuk pengakuan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah.

    Penciptaan juga berkaitan erat dengan karya penyelamatan Allah. Allah tidak hanya berhenti pada tindakan menciptakan, tetapi terus hadir dan bekerja dalam sejarah manusia. Ketika manusia jatuh dalam dosa, Allah tetap setia menyertai dan menuntun mereka menuju keselamatan. Dengan kata lain, penciptaan merupakan awal dari perjalanan panjang Allah dalam menyelamatkan umat-Nya. Kesadaran ini membawa harapan bahwa dalam situasi apapun, Allah tidak pernah meninggalkan ciptaan-Nya.

    Melalui pemahaman ini, kita diajak untuk memandang hidup dengan penuh rasa syukur. Menjaga alam bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga wujud iman kita kepada Allah sebagai Pencipta. Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk hidup selaras dengan kehendak Allah, menghargai diri sendiri, sesama, dan seluruh ciptaan. Dengan begitu, kita ikut ambil bagian dalam karya penyelamatan yang sudah dimulai Allah sejak awal mula dunia.

No comments:

Post a Comment

Maria dalam Perspektif Injil

  (Sumber Gambar: https://share.google/VoCDGuLJYaDcoAZni)      Perjanjian Baru tidak banyak berbicara secara khusus tentang Maria. Pembahasa...