(Sumber Gambar: https://share.google/images/Mf5nH2EBnQKHS12BH)
Pengharapan dalam Kitab Suci bukanlah sekadar pandangan optimis, melainkan sikap iman yang berakar pada keyakinan bahwa Tuhan setia pada segala janji-Nya. Dalam tradisi Israel, pengharapan muncul dari pengalaman konkret akan karya Allah di masa lalu, terutama saat Ia membebaskan dan menyertai umat-Nya. Karena itu, masa depan tidak dilihat sebagai sesuatu yang gelap, tetapi sebagai ruang di mana Allah akan kembali berkarya.
Dalam Perjanjian Lama, pengharapan selalu berarti menempatkan hidup sepenuhnya di tangan Tuhan. Israel tidak mendasarkan harapannya pada kekuatan manusia, melainkan pada kesetiaan Allah yang terbukti berkali-kali. Janji itu tidak hanya berlaku bagi individu, tetapi bagi seluruh umat pilihan, bahkan pada akhirnya mencakup seluruh ciptaan. Pengharapan menjadi jembatan yang menghubungkan janji lama dengan karya baru Allah dalam Perjanjian Baru.
Masuk ke Injil-Injil Sinoptik, pengharapan diarahkan pada Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus. Walau kata “mengharapkan” tidak terlalu sering digunakan, pewartaan Yesus sendiri mengajak manusia hidup dalam sikap berjaga, siap, dan berani meninggalkan hal-hal yang menghalangi pertumbuhan rohani. Yesus mengundang orang untuk menantikan Kerajaan Allah dengan semangat, bahkan berani berkorban demi nilai-nilai yang Ia tawarkan.
Dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru lainnya, makna pengharapan semakin diperjelas. Paulus, misalnya, menggambarkan pengharapan sebagai sikap hidup yang berada di antara “sudah” dan “belum”. Keselamatan telah dimulai dalam Kristus, tetapi pemenuhannya masih dinantikan. Karena itu, pengharapan menjadi kekuatan yang menopang ketekunan, terutama saat seseorang menghadapi penderitaan. Dasarnya tetap sama: kasih Allah yang nyata dalam diri Kristus.
Pengarang lain dalam Perjanjian Baru turut menegaskan peranan pengharapan. Surat Ibrani menempatkan pengharapan dekat dengan iman, sebab keduanya berbicara tentang hal-hal yang belum tampak. Injil Yohanes menekankan bahwa keselamatan Allah sudah hadir sekarang, sehingga pengharapan hampir menyatu dengan kepercayaan. Sementara itu, Surat Pertama Petrus melihat pengharapan sebagai pusat dari cara hidup yang suci dan penuh ketabahan.
Pemahaman eskatologi dalam Kitab Suci tidak berhenti pada gambaran akhir zaman yang menakutkan. Para nabi pada abad ke-7 SM berbicara tentang penghakiman karena ketidakadilan, tetapi selalu diikuti janji keselamatan. Dalam Perjanjian Baru, Yesus sendiri memahami misi-Nya sebagai bagian dari zaman yang menentukan, sehingga setiap orang diajak membuat pilihan penting dalam hidupnya. Bahasa apokaliptik yang Ia gunakan dimaksudkan untuk menyadarkan betapa seriusnya keputusan manusia.
Setelah wafat dan kebangkitan Yesus, Gereja Perdana menghadapi kenyataan bahwa kedatangan kembali Kristus tidak terjadi secepat yang mereka harapkan. Namun mereka tidak kehilangan semangat. Gereja mulai melihat bahwa tugas mereka adalah mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari, sambil tetap menantikan janji Tuhan. Sikap berbagi, hidup dalam kasih, dan bertahan dalam penganiayaan menjadi wujud nyata dari pengharapan itu.
Pada akhirnya, pengharapan dalam Kitab Suci bukanlah sikap pasif yang hanya menunggu. Ia adalah cara hidup yang menuntut keterlibatan aktif, keberanian, dan ketekunan. Dari Perjanjian Lama hingga Gereja Perdana, umat diajak untuk mempercayakan hidup kepada Allah yang setia, sambil bertindak sesuai dengan nilai yang Ia ajarkan. Pengharapan seperti inilah yang memberikan arah dan makna dalam perjalanan iman.

No comments:
Post a Comment