Setiap orang beriman tentu pernah bertanya dalam hati: bagaimana sebenarnya Allah menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus? Pertanyaan ini tidak sekadar teoretis, melainkan menyentuh inti iman Kristiani. Dua teolog besar, Edward Schillebeeckx dan Karl Rahner, berusaha menjawab pertanyaan ini dengan cara yang segar dan relevan bagi zaman modern. Melalui pemikiran mereka, kita diajak menyingkap kembali makna keselamatan bukan hanya dalam penderitaan dan wafat Yesus, tetapi juga dalam seluruh peristiwa hidup-Nya.
Schillebeeckx menyoroti bahwa selama berabad-abad Gereja cenderung memahami keselamatan terutama melalui peristiwa sengsara dan wafat Yesus di salib. Pandangan ini disebut sebagai satisfactio, di mana salib dimengerti sebagai silih atas dosa manusia. Namun, bagi Schillebeeckx, pemahaman semacam ini sering kali menyingkirkan kekayaan makna dari seluruh hidup Yesus. Ia menegaskan bahwa keselamatan tidak hanya terjadi di kayu salib, tetapi dalam seluruh peristiwa hidup Yesus Kristus — dari inkarnasi, karya pewartaan, hingga kebangkitan-Nya.
Dalam pandangannya, keselamatan sejati terwujud ketika Allah menampakkan diri dalam kemanusiaan Yesus. Melalui perkataan dan perbuatan-Nya, Yesus menghadirkan Kasih Allah yang membebaskan dan memulihkan martabat manusia. Allah bukan hadir sebagai hakim yang menuntut balas, melainkan sebagai “Deus humanissimus,” Allah yang amat manusiawi, yang penuh kasih dan kerahiman. Schillebeeckx ingin mengingatkan bahwa peristiwa Yesus Kristus adalah pewahyuan diri Allah yang menyelamatkan — bukan hanya di masa lampau, tetapi terus hidup dalam sejarah manusia.
Sementara itu, Karl Rahner memandang keselamatan dari sudut pandang yang lebih eksistensial. Bagi Rahner, kasih Allah tidak terbatas pada orang Kristiani saja, melainkan berlaku bagi seluruh manusia. Ia mengatakan bahwa setiap manusia, secara kodrati, selalu diarahkan kepada rahmat Allah. Manusia diselamatkan bukan hanya karena dosanya diampuni, tetapi karena ia diciptakan untuk bersatu dengan kasih Allah. Dalam salah satu refleksinya, Rahner menulis bahwa “manusia memerlukan penyelamatan bukan pertama-tama karena dosa, melainkan karena hanya dalam rahmat Allah manusia menemukan kepenuhannya.”
Rahner menolak pandangan yang terlalu yuridis tentang pengampunan dosa — seolah-olah Allah hanya menghapus kesalahan manusia secara hukum. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa pengampunan adalah proses di mana manusia dibebaskan dari kuasa dosa melalui rahmat kasih Allah yang terus bekerja dalam hidupnya. Dengan demikian, salib Kristus bukan simbol hukuman, tetapi tanda kasih Allah yang tanpa syarat, yang memberi manusia kekuatan untuk melawan kejahatan dan menemukan hidup baru.
Baik Schillebeeckx maupun Rahner menegaskan bahwa keselamatan adalah karya kasih Allah yang terus berlangsung. Allah tidak hanya bertindak di masa lalu, tetapi juga kini, di tengah kehidupan manusia yang rapuh dan penuh perjuangan. Peristiwa Yesus Kristus bukan sekadar sejarah, melainkan kenyataan iman yang terus dihadirkan Roh Kudus dalam hidup kita. Setiap tindakan kasih, pengampunan, dan keadilan yang kita lakukan merupakan partisipasi dalam karya keselamatan itu.
Melalui pemikiran dua teolog besar ini, kita diajak melihat kembali bahwa keselamatan bukan sekadar pembebasan dari dosa, tetapi juga pemulihan relasi manusia dengan Allah dan sesama. Dalam Yesus Kristus, Allah menunjukkan diri-Nya sebagai kasih yang setia dan murah hati. Maka, menemukan makna keselamatan berarti membuka diri untuk mengalami kasih itu dalam keseharian — dalam doa, pelayanan, dan solidaritas terhadap sesama.
Pada akhirnya, keselamatan bukan hanya tentang apa yang Allah lakukan dua ribu tahun lalu, melainkan juga tentang bagaimana kita menanggapi kasih Allah hari ini. Dalam setiap langkah hidup, Allah hadir dan mengundang kita untuk hidup sebagai pribadi yang diselamatkan — manusia yang bersyukur, mencintai, dan membawa kasih itu kepada dunia.

No comments:
Post a Comment