Gereja dipahami sebagai komunitas yang masih terus berjalan menuju kepenuhan Kerajaan Allah. Gereja bukanlah Kerajaan itu sendiri, melainkan umat beriman yang sedang berada dalam perjalanan sejarah, penuh keterbatasan, namun dibimbing oleh Roh Kudus menuju kesempurnaan yang dijanjikan Allah. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Gereja baru akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan surgawi. Karena itu, hidup Gereja di dunia bersifat sementara dan penuh harapan, sebab apa yang kita alami sekarang hanyalah gambaran samar dari kemuliaan yang kelak akan kita lihat secara penuh.
Pengharapan Gereja tidak berlandaskan khayalan, tetapi pada karya keselamatan Allah yang terus berlangsung sejak kebangkitan Kristus, turunnya Roh Kudus, hadirnya Gereja, hingga janji kebangkitan orang mati. Iman akan Roh Kudus, Gereja, dan kehidupan kekal menjadi dasar yang meneguhkan perjalanan umat beriman. Allah yang membangkitkan Kristus akan menggenapi janji-Nya kepada seluruh umat yang setia. Karena itu, menantikan akhirat berarti menantikan penyempurnaan karya keselamatan yang telah Allah mulai sejak awal.
Dalam perjalanan hidup manusia, kematian menjadi batas yang tidak dapat dihindari. Semua orang mengakui bahwa hidup memiliki awal dan akhir, dan kesadaran akan kematian mengingatkan manusia akan tujuan sejatinya. Meskipun hidup di dunia bersifat sementara, setiap pilihan dan tindakan manusia bernilai kekal, sebab melalui hidup inilah manusia mengambil sikap terhadap Allah. Kematian menjadi penutup peziarahan manusia, tetapi bukan berarti manusia baru menentukan arah hidupnya saat ajal tiba. Sikap hidup sehari-harilah yang menunjukkan iman dan kesetiaan seseorang kepada Tuhan.
Iman kristiani juga menegaskan bahwa setelah kematian, Allah menyediakan kehidupan kekal bagi mereka yang bersatu dengan Kristus. Surga dipahami bukan sebagai tempat fisik, melainkan sebagai kebahagiaan penuh dalam persekutuan dengan Allah. Gambaran-gambaran Kitab Suci mengenai surga merupakan bahasa kiasan yang menyatakan kemuliaan yang melampaui segala bentuk gambaran manusiawi. Sebaliknya, neraka dipahami sebagai keadaan keterpisahan dari Allah, yang terjadi apabila manusia menolak kasih-Nya. Dengan demikian, baik surga maupun neraka berbicara tentang relasi manusia dengan Tuhan yang berlanjut hingga kekekalan.
Kebangkitan badan menjadi puncak pengharapan umat beriman. Sebagaimana Kristus dibangkitkan oleh Bapa, demikian pula manusia akan bangkit dalam kemuliaan. Kebangkitan bukan berarti kembali ke hidup yang lama, tetapi perubahan radikal di mana tubuh dibarui oleh Roh, memasuki kehidupan ilahi yang tidak lagi terikat oleh kelemahan duniawi. Dan selama menantikan kesempurnaan itu, jiwa orang beriman tetap hidup dalam Allah, karena mati dalam Kristus berarti tetap berada dalam kesatuan dengan-Nya. Inilah harapan Gereja yang sedang berziarah: bahwa perjalanan iman di dunia akan berakhir dalam kepenuhan hidup bersama Kristus, yang telah membuka jalan menuju keselamatan kekal.

No comments:
Post a Comment